0

METODE HARGA POKOK PROSES (Tidak memperhitungan persediaan awal)

Rabu, 26 Oktober 2011




1.      Pengertian Metode Harga Pokok Proses

·       Metode harga pokok proses merupakan metode pengumpulan biaya produksi yang digunakan oleh perusahaan yang mengolah produknya secara massa.

·       Didalam metode ini, biaya produksi dikumpulkan untuk setiap proses selama jangka waktu tertentu, dan biaya produksi per satuan dihitung dengan cara membagi total biaya produksi dalam periode tertentu dengan jumlah satuan produk yang dihasilkan dari proses tersebut selama jangka waktu yang bersangkutan.


2.      Karakteristik Usaha Perusahaan Yang Berproduksi Secara Massa.

·       Produk yang dihasilkan merupakan produk standar.
·       Produk yang dihasilkan dari bulan ke bulan adalah sama.
·       Kegiatan produksi dimulai dengan diterbitkannya perintah produksi yang berisi rencana produksi produk standar untuk jangka waktu tertentu.
3.      Karakteristik Metode Harga Pokok Proses. 

·       Pengumpulan biaya produksi per departemen produksi per periode akuntansi.

·       Perhitungan HPP per satuan dengan cara membagi total biaya produksi yang dikeluarkan selama periode tertentu dengan jumlah satuan produk yang dihasilkan selama periode yang bersangkutan.

·       Penggolongan biaya produksi langsung dan tak langsung seringkali tidak diperlukan.

·       Elemen yang digolongkan dalam BOP terdiri dari  biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya bahan penolong dan biaya tenaga kerja (baik yang langsung maupun tidak langsung). BOP dibebankan berdasarkan biaya yang sesungguhnya terjadi.

4.      Pengaruh Terjadinya Produk yang Hilang Dalam Proses terhadap Harga Pokok Produksi per Satuan.

a.          Hilang Awal Proses
b.          Hilang Akhir Proses




METODE HARGA POKOK PROSES

(Memperhitungkan Adanya Persediaan Produk Dalam Proses Awal)


Persediaan Produk Dalam Proses Awal

·       Dalam suatu departemen produksi, produk yang belum selesai  diproses pada akhir periode akan menjadi persediaan produk dalam proses pada awal periode berikutnya.

·       Produk dalam proses awal periode ini akan membawa harga pokok    persatuan yang berasal dari periode sebelumnya, yang kemungkinan akan berbeda dengan harga pokok per satuan
yang dikeluarkan oleh departemen produksi yang
bersangkutan dalam periode sekarang. Dengan demikian jika dalam periode sekarang dihasilkan produk selesai yang ditransfer ke gudang atau ke departemen berikutnya , harga pokok yang melekat pada persediaan produk dalam proses awal akan menimbulkan masalah dalam penentuan harga pokok produk selesai tersebut.




Metode Rata-Rata Tertimbang

·       Dalam metode ini, jumlah harga pokok produk dalam proses awal ditambahkan dengan biaya produksiyang dikeluarkan periode sekarang dibagi dengan unit ekuivalensi produk untuk menghasilkan harga pokok rata-rata tertimbang.

·       Harga pokok produk yang dihasilkan oleh departemen setelah departemen pertama merupakan harga pokok kumulatif,yaitu merupakan penjumlahan harga pokok dari departemen satu ditambahkan dengan depar temen berikutnya yang bersangkutan.


Metode Masuk Pertama Keluar Pertama

·       Dalam metode ini, menganggap biaya produksi periode sekarang pertama kali digunakan untuk menyelesaikan produk yang pada awal periode masih dalam proses, baru kemudian sisanya digunakan untuk mengolah produk yang dimasukkan dalam proses periode sekarang.

·       Oleh karena itu dalam perhitungan unit ekuivalensi tingkat penyelesaian persediaan produk dalam proses awal harus diperhitungkan.

·       Dalam departemen setelah departemen I, produk telah membawa harga pokok dari periodesebelumnya digunakan pertama kali untuk menentukan harga pokok  produk yang ditransfer ke departemen berikutnya atau ke gudang.

Tambahan Baku Setelah Departemen Produksi I

Tambahan baku ini mempunyai 2 kemungkinan :

1.  Tidak menambah jumlah produk yang dihasilkan
Tambahan initidak terpengaruh terhadap perhitungan unit ekuivalensi produk yang dihasilkan, sehingga tidak mempengaruhi perhitungan HPP per satuan yang diterima dari departemen produksi sebelumnya.

2.  Menambah jumlah produk yang dihasilkan
       Hal ini akan berakibat diadakannya penyesuaian HPP per satuan yang diterima dari departemen produksi sebelumnya.













1.      Pengaruh  Produk  yang  hilang,  Rusak  dan Cacat
2.      Nilai Jual Produk Rusak Diperlakukan Sebagai pengurang Biaya Produksi.
3.      Nilai Jual Produk Rusak Diperlakukan Sebagai Pendapatan di Luar Usaha.





METODE HARGA POKOK PROSES

(Memperhitungkan Adanya Persediaan Produk Dalam Proses Awal)


Persediaan Produk Dalam Proses Awal


·       Dalam suatu departemen produksi, produk yang belum selesai  diproses pada akhir periode akan menjadi persediaan produk dalam proses pada awal periode berikutnya.

·       Produk dalam proses awal periode ini akan membawa harga pokok    persatuan yang berasal dari periode sebelumnya, yang kemungkinan akan berbeda dengan harga pokok per satuan
yang dikeluarkan oleh departemen produksi yang
bersangkutan dalam periode sekarang. Dengan demikian jika dalam periode sekarang dihasilkan produk selesai yang ditransfer ke gudang atau ke departemen berikutnya , harga pokok yang melekat pada persediaan produk dalam proses awal akan menimbulkan masalah dalam penentuan harga pokok produk selesai tersebut.




Metode Rata-Rata Tertimbang

·       Dalam metode ini, jumlah harga pokok produk dalam proses awal ditambahkan dengan biaya produksiyang dikeluarkan periode sekarang dibagi dengan unit ekuivalensi produk untuk menghasilkan harga pokok rata-rata tertimbang.

·       Harga pokok produk yang dihasilkan oleh departemen setelah departemen pertama merupakan harga pokok kumulatif,yaitu merupakan penjumlahan harga pokok dari departemen satu ditambahkan dengan depar temen berikutnya yang bersangkutan.


Metode Masuk Pertama Keluar Pertama

·       Dalam metode ini, menganggap biaya produksi periode sekarang pertama kali digunakan untuk menyelesaikan produk yang pada awal periode masih dalam proses, baru kemudian sisanya digunakan untuk mengolah produk yang dimasukkan dalam proses periode sekarang.

·       Oleh karena itu dalam perhitungan unit ekuivalensi tingkat penyelesaian persediaan produk dalam proses awal harus diperhitungkan.

·       Dalam departemen setelah departemen I, produk telah membawa harga pokok dari periodesebelumnya digunakan pertama kali untuk menentukan harga pokok  produk yang ditransfer ke departemen berikutnya atau ke gudang.

Tambahan Baku Setelah Departemen Produksi I

Tambahan baku ini mempunyai 2 kemungkinan :

2.  Tidak menambah jumlah produk yang dihasilkan
Tambahan initidak terpengaruh terhadap perhitungan unit ekuivalensi produk yang dihasilkan, sehingga tidak mempengaruhi perhitungan HPP per satuan yang diterima dari departemen produksi sebelumnya.

3.  Menambah jumlah produk yang dihasilkan
       Hal ini akan berakibat diadakannya penyesuaian HPP per satuan yang diterima dari departemen produksi sebelumnya.








0

AKUNTANSI UNTUK PERUSAHAAN PENGOLAHAN / MANUFAKTUR




§  Perusahaan pengolahan / manufaktur: perusahaan yang mengolah bahan mentah (bahan baku) menjadi barang jadi.

§  Klasifikasi persediaan pada perusahaan pengolahan :
ü Persediaan Bahan Baku
ü Persediaan Barang Dalam Proses
ü Persediaan Barang Jadi



LAPORAN KEUANGAN


Laporan keuangan perusahaan manufaktur hampir sama dengan laporan keuangan perusahaan dagang. Perbedaannya terletak pada bagian Aktiva Lancar di Neraca dan Harga Pokok Penjualan di Laporan Rugi-Laba.


Neraca


Perbandingan Neraca Perusahaan Dagang dan Perusahaan Manufaktur:

Perusahaan Dagang

Neraca sebagian
31 Desember 2005

Perusahaan Manufaktur
Neraca sebagian
31 Desember 2005
Aktiva Lancar:


Aktiva Lancar:


Kas
Rp    1.000

Kas

Rp   1.200
Piutang (bersih)
     13.000

Piutang (bersih)

4.000

Persediaan Barang Dagangan

9.000

Persediaan:


Sewa Dibayar di Muka
   2.900

Barang Jadi
Rp 15.000


25.900

Barang Dalam Proses
18.000




Bahan Baku
9.000






42.000



Sewa Dibayar di Muka

1.600





48.800



Laporan Rugi-Laba


Perbandingan bagian Harga Pokok Penjualan di Laporan Rugi-Laba antara Perusahaan Dagang dan Perusahaan Manufaktur:








Perusahaan Dagang

Laporan Rugi-Laba sebagian

Periode Tahun 2005

Harga Pokok Penjualan:

Persediaan Barang Dagangan 1 Januari …………

Rp    10.000
(+) Pembelian Bersih …………………..……………
99.250
Barang Tersedia Untuk Dijual ………………………
Rp  109.250
(-) Persediaan Barang Dagangan 31 Desember …
9.000
Harga Pokok Penjualan …………………………….
Rp  100.250





Perusahaan Manufaktur

Laporan Rugi-Laba sebagian

Periode Tahun 2005

Harga Pokok Penjualan:

Persediaan Barang Jadi 1 Januari ………………….
Rp    12.000
(+) Harga Pokok Produksi (lihat skedul) ……………
688.000
Barang Tersedia Untuk Dijual ……………………….
Rp  700.000
(-) Persediaan Barang Jadi 31 Desember ………….
15.000
Harga Pokok Penjualan
Rp  685.000





Komponen yang berbeda digambarkan secara skematis sbb:



Perusahaan Dagang:
  Persediaan Barang      +     Pembelian       -     Persediaan Barang     =    Harga Pokok
    Dagangan (Awal)                            Bersih                    Dagangan (Akhir)                Penjualan


Perusahaan Manufaktur:

  Persediaan Barang      +   Harga Pokok    -     Persediaan Barang      =    Harga Pokok
         Jadi (Awal)                       Produksi                     Jadi (Akhir)                      Penjualan





















Pada perusahaan manufaktur diperlukan banyak rekening untuk menentukan harga pokok produksi, tetapi dalam Laporan Rugi-Laba hanya disajikan totalnya saja, sedangkan rinciannya disajikan dalam Skedul Harga Pokok Produksi.


Contoh Skedul Harga Pokok Produksi (merupakan lampiran Laporan Rugi-Laba di atas):

Skedul Harga Pokok Produksi
Tahun 2005

Persediaan Barang Dalam Proses 1 Januari …………………..

Rp   10.000
Ditambah:



Bahan Baku:



     Persediaan 1 Januari ………………..
Rp    5.000


     Ditambah: Pembelian ……………….
100.000


     Tersedia Dipakai …………..………...
      105.000              105


     Dikurangi : Persediaan 31 Desember
9.000


     Bahan Baku Dipakai ………………………………..
Rp 96.000

Biaya Tenaga Kerja Langsung …………………….….
     200.000

Biaya Overhead Pabrik:



     Tenaga Kerja Tidak Langsung ..……
Rp 50.000


     Listrik dan Air …………………………
140.000


     Bahan Habis Pakai Pabrik ………….
30.000


     Penyusutan Gedung Pabrik ………...
120.000


     Penyusutan Mesin …………………...
60.000


     Total Biaya Overhead Pabrik ………………………
400.000

Total Biaya Produksi tahun ini ……………………………………
696.000
Total Biaya Barang Dalam Proses …………………………………
706.000
Dikurangi:



Persediaan Barang Dalam Proses 31 Desember ……………..
18.000
Harga Pokok Produksi ………………………………………………
688.000







HARGA POKOK PRODUKSI

Biaya produksi atau Harga Pokok Produksi (Cost of Goods Manufactured) merupakan kumpulan dari biaya-biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh dan mengolah bahan baku sampai menjadi barang jadi.

Biaya-biaya tersebut terdiri dari:
ü Biaya Bahan Baku (disingkat BBB)
ü Biaya Tenaga Kerja Langsung ( disingkat BTKL)
ü Biaya Overhead Pabrik (disingkat BOP)


Biaya Bahan Baku

§  Biaya Bahan Baku adalah harga perolehan (harga pokok) seluruh substansi / materi pokok yang terdapat pada barang jadi.

§  Bahan baku merupakan bagian Barang jadi yang dapat ditelusur keberadaannya.

§  Bahan baku pada sebuah pabrik dapat berasal dari Barang jadi pabrik yang lain.






Biaya Tenaga Kerja Langsung

§  Tenaga kerja langsung adalah tenaga kerja yang memiliki kinerja langsung terhadap proses pengolahan barang, baik menggunakan kemampuan fisiknya maupun dengan bantuan mesin.

§  Tenaga kerja langsung memperoleh kontraprestasi yang dikategorikan sebagai Biaya tenaga kerja langsung. Jadi, Biaya Tenaga Kerja Langsung adalah semua kontraprestasi yang diberikan kepada tenaga kerja langsung.


Biaya Overhead Pabrik

§  Biaya Overhead Pabrik adalah biaya-biaya yang timbul dalam proses pengolahan, yang tidak dapat digolongkan dalam biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung.

§  Biaya-biaya yang termasuk dalam biaya overhead pabrik, a.l.:
ü Biaya tenaga kerja tidak langsung, seperti Upah pengawas, mandor, mekanik, bagian reparasi, dll
ü Biaya bahan penolong, yaitu macam-macam bahan yang digunakan dalam proses pengolahan, tetapi kuantitasnya sangat kecil dan tidak dapat ditelusur keberadaannya pada barang jadi.
ü Biaya penyusutan gedung pabrik, Biaya penyusutan mesin, dll



SIKLUS AKUNTANSI

§  Siklus akuntansi perusahaan manufaktur sama dengan siklus akuntansi perusahaan dagang.

§  Akuntansi perusahaan manufaktur dengan sistem fisik:

ü Rekening Persediaan Bahan Baku hanya digunakan untuk mencatat nilai bahan baku yang masih tersisa, baik di awal maupun akhir periode.

Transaksi pembelian Bahan baku tidak dicatat ke rekening Persediaan Bahan Baku, tetapi dicatat ke rekening Pembelian Bahan Baku, seperti terlihat pada jurnal berikut:

Mei
17
Pembelian Bahan Baku
     Kas / Utang Dagang
Rp 100.000

Rp 100.000

ü Rekening Persediaan Barang Dalam Proses hanya digunakan untuk mencatat nilai barang yang masih dalam proses, baik di awal maupun akhir periode.

ü Rekening Persediaan Barang Jadi hanya digunakan untuk mencatat nilai barang jadi pada awal dan akhir periode.

§  Jurnal penyesuaian untuk perusahaan manufaktur sama dengan jurnal penyesuaian untuk perusahaan dagang.

§  Neraca Lajur untuk perusahaan manufaktur pada prinsipnya sama dengan neraca lajur untuk perusahaan dagang, tetapi ditambahkan kolom untuk skedul harga pokok produksi.

§  Contoh Neraca Lajur Sebagian:


Perusahaan Manufaktur
Neraca Lajur sebagian
Periode tahun 2005
Nama Rekening
NSSD
Harga Pokok Poduksi
Laporan Rugi-Laba
Neraca
Debit
Kredit
Debit
Kredit
Debit
Kredit
Debit
Kredit
Persediaan Barang Jadi
  12.000



12.000
   15.000
15.000

Persed. Barang Dlm. Proses
  10.000

  10.000
  18.000


18.000

Persediaan Bahan Baku
    5.000

    5.000
    9.000


  9.000

Pembelian Bahan Baku
100.000

100.000





Biaya Tenaga Kerja Lgsg.
200.000

200.000





Biaya Tenaga Kerja Tak Lgsg.
  50.000

  50.000





Biaya Listrik dan Air
140.000

140.000





Biaya Bahan Habis Pakai
  30.000

  30.000





Biaya Penyst. Gedung Pabrik
120.000

120.000





Biaya Penyst. Mesin
  60.000

  60.000





Biaya Pemasaran
  40.000



40.000



Penjualan

1.500.000



1.500.000



……….
………..
715.000
  27.000




Harga Pokok Produksi



688.000







715.000
715.000






JURNAL PENUTUP

Jurnal penutup untuk perusahaan manufaktur berbeda dengan perusahaan dagang. Dalam perusahaan manufaktur, rekening Harga Pokok Produksi digunakan untuk menutup semua rekening yang akan dilaporkan di Skedul Harga Pokok Produksi. Saldo rekening ini kemudian ditransfer ke rekening Ikhtisar Rugi-Laba.

Contoh:

Des.
31













Harga Pokok Produksi
     Persediaan Barang Dalam Proses
     Persediaan Bahan Baku
     Pembelian Bahan Baku
     Biaya Tenaga Kerja Langsung
     Biaya Tenaga Kerja Tak Langsung
     Biaya Listrik dan Air
     Biaya Bahan Habis Pakai
     Biaya Penyusutan Gedung Pabrik
     Biaya Penyusutan Mesin
(untuk menutup rekening-rekening Persediaan Bahan Baku awal, Barang Dalam Proses awal, dan rekening-rekening Biaya produksi)

Rp    715.000

Rp     10.000
            5.000
        100.000
        200.000
          50.000
        140.000
          30.000
        120.000
          60.000




31
Persediaan Barang Dalam Proses
Persediaan Bahan Baku
     Harga Pokok Produksi
(untuk mencatat persediaan akhir barang dalam proses dan bahan baku)

Rp     18.000
            9.000


Rp      27.000

31
Persediaan Barang Jadi
Penjualan
     Ikhtisar Rugi-Laba
(untuk mencatat persediaan akhir barang jadi dan menutup rekening penjualan)

Rp      15.000
     1.500.000


Rp 1.515.000

31
Ikhtisar Rugi-Laba
     Persediaan Barang Jadi
     Harga Pokok Produksi
(untuk menutup rekening persediaan awal barang jadi dan harga pokok produksi)

Rp   700.000

Rp      12.000
        688.000

31
Ikhtisar Rugi-Laba
     Biaya Pemasaran
(untuk menutup biaya pemasaran)

Rp     40.000

Rp     40.000